Jumat, 05 Oktober 2018

Mengawal Fitrah Seksualitas Anak #1


REVIEW MATERI 1 “ PREDATOR ANAK BERGENTAYANGAN”



Pada hari pertama presentasi ini, Tim Ibu Bangsa menyampaikan tentang Pendidikan Seks untuk Anak dan Pencegahan Kekerasan Seksual Sejak Dini.
Pendidikan seks untuk anak sangatlah penting demi terpenuhinya fitrah seksualitas anak. Orang tua haruslah menjadi pihak pertama yang secara jujur dan terbuka dalam penyampaian berkaitan dengan organ seksual anak.
Menurut saya pribadi pernyataan tersebut sangatlah benar. Apabila kita, si Orang tuanya tidak jujur dan terbuka mengenai hal tersebut, maka anak yang cenderung memiliki rasa ingin tahu yang tinggi akan mencoba mencari jawaban pada orang lain. Kalau informasi yang diperoleh benar sih tidak apa-apa. Namun apa jadinya bila anak memperoleh informasi yang salah dalam memahami organ seksual tersebut? Tentunya akan terjadi pemahaman yang keliru dan akan berdampak buruk bagi fitrah seksualitas anak tersebut nantinya.
Nah, bagaimana agar anak terlindungi dari predator yang merusak fitrah seksualitas anak? Yang pertama usahakan anak mengerti identitas seksualnya sejak usia 3 tahun. Kedua, Rawat rasa maku yang fitrahnya ia rasakan saat bagian tubuh itu dilihat orang lain. Ketiga, ajarkan anak untuk melindungi diri dari kejahatan seksual. Keempat, pahamkan anak mengenai bagian tubuh mana saja yang TIDAK BOLEH DISENTUH/ dipegang orang lain kecuali untuk keperluan pemeriksaan. Kelima, ajari anak untuk mempercayai perasaannya, dan ajari anak agar mampu berkata tidak, enggak mau, atau jangan begitu. Keenam, latih anak mengucapkan salam saat masuk rumah atau kamar orang tua. Lalu, Biasakan anak untuk menundukkan pandangan dari hal-hal yang tidak baik dan haram.
Setelah mengikuti presentasi Tim Ibu Bangsa saya jadi semakin tahu apa saja yang harus kita lakukan untuk menemani anak merawat fitrah seksualitasnya.

#bunda sayang
#fitrah seksualitas
#game level 11
#sogasquad

Kamis, 13 September 2018

alras game 10

Mendongeng itu Mengasyikkan

    Pada dasarnya...aku suka dengan tantangan mendongeng ini. Saat memulainya aku sempat ragu..bisa tidak ya. Namun setelah praktik..memainkan intonasi.. merubah gesture dengan berbagai gaya...aku sangat menikmatinya. Ansk-anak pun senang saat saya mendongeng. Sering kali mereka minta didongengi lagi. Pokoknya..I Like It..

Kamis, 06 September 2018

dongeng nyamuk

Dongeng Mosquitos

Malam itu banyak sekali nyamuk di rumah kami. Maklum sebelah rumah kami adalah kebun albasiyah yang lumayan luas. Alhamdulillah..pas baca-baca di perpus sekolah dapat referensi dongeng tentang nyamuk. Malam itu aku menceritakannya pada anak-anak.
Pertama aku baca judulnya. Lalu anak-anak tertarik dan minta dipinjami bukunya untuk mereka baca sendiri. Setelah membaca gantian mereka yang menceritakannya kepadaku.
Menurut dongeng tersebut, dahulu kala ada 2 orang tukang sihir yang saling beradu kesaktian untuk bisa awet muda yaitu kakek Bet dan Nenek Mosquito. Syaratnya adalah dengan meminum darah 1000 orang. Bagaimana bisa mereka mendapatkan darah 1000 orang sedangkan darah adalah sesuatu yang sangat berharga bagi manusia. Akhirnya nenek Mosquito menjelma menjadi hewan kecil yang bisa terbang dan mempunyai tusuk di ujung kepalanya sehingga bisa menghidap darah manusia. Kakek Bet tidak mau ketinggalan..Dia malah merubah dirinya menjadi kelelawar sehingga bisa memakan nyamuk. Rupanya ketika nenek Mosquito menyedot darah manusia juga meninggalkan bibit penyakit. 
Anak-anak sangat antusias bercerita dan mendengarkan ceritaku. 


#Tantangan10hari
#Level10
#KuliahBunSayIIP
#GrabYourImagination

Sabtu, 01 September 2018

cerita

Cerita Hari Ini: The Giving Tree

Cerita ini aku ketahui saat mengikuti workshop bersama Bu D.K. Wardhani, seorang children book author. Kemudian sku coba untuk mencari sesungguhnya seperti apakah ceritanya sehingga masuk dalam cerita yang dikategorikan bagus oleh Bu Dini?
Saat aku menceritakannya kepada anak-anak,anak-anak nampak menikmati ceritanya. The Giving Tree menceritakan tentang persahabatan sebuah pohon apel dengan anak manusia. Saat anak tersebut masih kecil dia sering bermain-main di bawahnya dan bergelantungan memanjat dahannya.Namun ketika si Anak tersebut sudah beranjak dewasa., ansk tersebut sudah jarang bermain lagi. Bahkan, dia ssmpai akhirnya tega menghabiskan seluruh bagian pohon tersebut, buah, ramting, dahan untuk keperluannya.


#Tantangan10Hari
#Level10
#KuliahBunsayIIP
#GrabYourImagination

Jumat, 31 Agustus 2018

membuat cernak

Latihan Membuat Cernak

Alhamdulillah rumah belajar literasi IP Jogja mengadakan challenge membuat cerita pendek anak. Kesempatan yang baik untuk melatih skill menulisku. Akhirnya jadilah satu cernak pendek berjudul 'Kail Pancing Kaila'. Saya pun membawakan cernak saya dan teman-teman kepada anak-anak. Alhamdulillah anak-anak sangat menikmati. Beginilah ceritanya...

*Kail Pancing Kaila*
(Lukluk)

"Kaila pergi dulu ya buu..Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam. Hati-hati nak...," jawab Ibunya sambil menggeleng-gelengkan kepala, melihat putri bungsunya itu punya kegemaran memancing ikan.
Kaila memang senang memancing. Apalagi kalau yang mengajak mancing adalah Kakek Danu, pasti dia akan ikut dengan semangat. Kakek Danu sering mengajaknya memancing di bekas kolam ikan di pinggir sawah. Kolam itu sudah lama tidak dilepasi ikan.Namun sayangnya akhir-akhir ini Kakek Danu sedang sibuk menanan Jagung di ladang.
 Kali ini dia mencoba memancing ikan bersama teman, Boni di sebuah empang tak jauh dari rumahnya.
"Coba...kalau di sini. Kamu bisa dapat tidak," kata Boni, seorang temannya dengan nada mengejek.
"Coba saja,"jawab Kaila seolah menerima tantangan tersebut.
Mereka berdua akhirnya memasang umpan di kail masing-masing dan mulai memancing. Setelah beberapa saat, pancing Boni bergerak-gerak pertanda ada ikan yang telah menyantap umpannya.
"Yuhuy...aku dapat," kata Boni dengan bangganya.
"Wah..alhamdulillah ya..," Kaila menampakkan bahwa ia ikut senang atas pencapaian temannya tapi sekaligus was-was umpannya belum satu pun disambar ikan.

************

Satu detik..dua detik..hingga tak terasa sudah setengah jam Kaila menunggu. Rasa malu pada Boni kian dekat menghantuinya.
"Mana ..Kaila. Kok umpan pancingmu belum disambar-sambar?" Boni kembali bertanya sambil tersenyum.
"Sebentar lagi pasti disambar," Kaila berusaha menguatkan hatinya.
"Sudah ah..aku mau pulang. Aku sudah dapat 4 nih," kata Boni.
"Tunggu...sebentar lagi aku pasti dapat," Kaila mecoba mayakinkan Boni.
"Daaah...aku lapar. Mau pulang. Kamu kalau mau tunggu sampai tahun depan juga boleh. Ha...ha...ha..." Boni akhirnya pergi meninggalkan Kaila sendirian.
Kaila kesal. "Kail pancing...kenapa tidak dapat2 ikan siih...aku kecewa padamu...aku kesal."
Kata Kaila sambil membanting kail pancingnya di tanggul pinggir sungai. Karena masih ada umpan dan air begitu deras, akhirnya kail tersebut terbawa arus.
" Oh...tidak. Ya Allah...bagaimana ini...hu..hu...," kaila mencoba mengejar. Namun ternyata larinya masih kalah cepat dengan derasnya arus air...

*********
" Tolong.. tolong..," Kaila berteriak minta tolong.
Tak jauh dari situ Paman Udin yang sedang berjalan di tanggul dekat sawah segera berlari menuju Kaila.
"Ada apa Kaila?"tanya Paman Udin.
" Kail Pancingku hanyut, Paman..itu," kata Kaila sambil berkaca-kaca.
" Baiklah..tunggu dulu. Akan aku ambilkan," paman Udin menenangkan Kaila.
Paman Udin segera berlari mengejar kail Pancing Kaila dan alhamdulillah masih sempat terkejar.
" Ini Kaila, lain kali hati- hati,ya.." pesan Paman Udin.
" Terimakasih, Paman. Lain kali Kaila akan lebih hati- hati," kaila bersyukur kail pancingnya masih dapat kembali ke tangannya.
" Baiklah...maafkan aku kail pancing. Kaila menyesal tadi telah membantingmu. Ayo kita mulai lagi perburuan ikan kita..," Kaila menyesal telah membanting kail pancingnya.
Kali ini Kaila berusaha lebih bersabar dan berpikir dengan tenang. Dua menit kemudian akhirnya seekor ikan besar memakan umpannya...dan ..
" Alhamdulillah...dapat ikan besar," seekor ikan nila besar terlihat menggelepar .

"Alhamdulillah...meskipun hanya dapat satu aku tetap bersyukur. Sekarang..pulang dulu ah..sudah waktunya sholat dzuhur," Kaila lalu pulang menuju rumahnya. Ikan tersebut lalu dimasak oleh ibu Kaila dan cukup untuk lauk bersama- sama.

*Akhirnya...berkat kesabaran, Kaila mendapatkan hasil yang baik dari Tuhan.*

*Tamat*

#Tantangan10Hari
#Level10
#KuliahBunsayIIP
#GrabYourImagination

Kamis, 30 Agustus 2018

cerita cacing

Cacing yang Tersesat

Hari ini aku mencoba membuat satu cerita yang berhubungan dengan mencintai lingkungan sekitar berkaitan dengan polusi tanah. Aku ceritakan pada duo jagoanku sebelum mereka tidur.

Suatu pagi , seekor cacing tanah kecil bernama Pipi berpamitan pada ibunya untuk bermain.
"Bu...Cici main dulu,ya..", kata Cici kepada ibunya.
"Hati-hati,nak. Ingat waktu,ya," pesan Ibu Cici.
Biasanya, CIci akan segera pulang ketika waktu sembahyang telah tiba. Cici senang sekali berkelana di lorong-lorong kecil dekat rumahnya. Sekedar bermain ke tempat sahabatnya Capi atau berputar-putar di sekitar kompleks Kota Cacing.
Cici memulai petualangannya dari rumah tante Rici di lorong sebelah kanan rumahnya.
"Tara..ra...ra...aku gembira. Berpetualang dengan hati senang," senandung Cici sambil melenggak lenggokkan ekornya. Cici melihat ada sahabatnya,Capi , sedang kebingungan mencari sesuatu.
"Ada apa,Capi?" tanya Cici.
"Aku sedang mencari ibuku. Aku ingin menyusul  ke tempat jualannya,"jawab Capi.
"Ayo..aku temani. Sepertinya lewat sini," kata Cici seolah yakin dengan perkiraannya.
 Mereka berdua akhirnya menyusuri lorong-lorong ke kota sebelah untuk menyusul Ibu Capi yang sedang berjualan. Setelah cukup jauh mereka berhenti sejenak.
"Cici,apa kamu yakin ini jalan menuju pasar?" Tanya Cici.
"Hmmm...sepertinya iya. Tapi kok gak ketemu-ketemu,ya," jawab Cici.
Tiba-tiba...ada suara yang mengagetkan..."Tolong...toloong...ada banjir detergen...lari...lari dari sini..."suara itu adalah peringatan bahwa kawasan itu sedang tidak amsn bagi para  cacing karena ada manusia yang membuang limbah detergen di sekitar tempat itu.
Para cacing lari kalang kabut. Tak lagi mencermati mana lorong menuju rumah mereka. Begiti pula dengan Cici dan Capi. Mereka terus berlari hingga akhirnya tiba di jalan buntu. Rupanya tempat itu sudah tercemar dengan limbah plastik yang begitu banyak sehingga tidak ada lagi lorong yang bisa dipakai berlari-lari anak cacing seperti mereka.
Mereka bingung. Mau pulang pun sudah bingung ke mana arahnya. Mereka hanya bisa menangis.
"Hu..hu..hu..ibu. Kami di sini bu..." mereka memanggil-manggil ibu mereka. Berharap ibu mereka mendengar dan segera menolong mereka. Namun tak berapa lama.." Cici..Capi...kenspa kalian di sini. Ini tempat yang berbahaya...ayo Kakak antar pulang," Kak Doci, petugas patroli kota cacing datang menghampiri mereka dan mengantar mereka pulang.

Rabu, 29 Agustus 2018

dongeng bunda cahaya

DONGENG BUNDA CAHAYA

Sore tadi aku dan anak-anak pergi silaturrahim ke rumah mbah yang ada di Temon. Di sana tidak ada telivisi. Saat makan sore kami berkumpul di satu ruang tengah sambil mendengarkan dongeng Bunda Cahaya.
Dongeng tersebut berjudul Abu Gosok. Akan saya ceritakan kembali pada anak-anak saat melihat tadi. Nenek  dahulunya sangat sensng menggunskan abu gosok untuk mencuci apa pun. Hingga pada suatu hari sabun colek datang diantar putranya nenek. Si Nenek sekarang lebih sering mrnggunakan sabun colek  sehingga abu gosok  merasa tak bermanfaat lagi. Nsmun ssbun colek menyemangati abu gosok jika mereka berdua digunakan bersama -sama maka hasilnya akan luar biasa.


#Tantangan10Hari
#Level10
#KuliahBunsayIIP
#GrabYourImagination

My Passion Project

 My Passion Project Tinggal di kota Hexagon berarti siap menerima tantangan karena warganya produktif, kreatif dan solutif. Salah satu tanta...